Perpecahan Blok Barat: Tanda Sunsetnya Peradaban Barat

Perpecahan Blok Barat: Tanda Sunsetnya Peradaban Barat

Salas Aly Temur

Memasuki tahun 2026, dunia menyaksikan fenomena yang semakin gamblang: kegalauan dan perpecahan dalam aliansi Barat yang telah mendominasi dunia sejak Abad ke-16. Peradaban ini, seperti layaknya peradaban sebelumnya, tampak mengikuti siklus naik-turun sesuai dengan dinamika zaman.

Dalam perspektif sejarah panjang, beberapa analisis merujuk pada siklus 300 tahunan sebagaimana isyarat yang dapat ditadaburi dari ayat-ayat Al-Qur’an. Saat ini, kita mungkin sedang menyaksikan fase “sunset” dari sebuah episode dominasi global.

Kemunculan dan puncak peradaban Barat tak dapat dilepaskan dari gerakan Renaisans yang kemudian berubah menjadi mesin kolonialisme global. Di balik ekspansi besar-besaran ini, terdapat peran signifikan para pedagang dan finasir Yahudi, khususnya dari kalangan Ashkenazi, yang mampu “berselancar” di tengah tekanan rezim Nasrani di Eropa. Ketika Eropa dipimpin oleh Ratu Isabella dari Castille yang menindas umat Islam dan Yahudi, segelintir kelompok Yahudi justru menemukan celah untuk bergerak.

Mereka turut membiayai ekspedisi Spanyol untuk menemukan Benua Amerika, termasuk Christopher Columbus. Kemudian, jaringan saudagar Yahudi juga menjadi kekuatan pendorong kemerdekaan Belanda dari bayang-bayang Spanyol, yang kemudian membuka jalan bagi berdirinya perusahaan multinasional pertama di dunia, VOC, yang menjarah Nusantara. Inggris pun bangkit sebagai adidaya berkat sentuhan modal dan jaringan keuangan yang sama.

Memasuki paruh kedua siklus 300 tahunan, Barat semakin mengokohkan cengkeramannya melalui sistem keuangan modern berbasis bank sentral dan pasar modal.

Pindahnya pusat gravitasi ke Amerika Serikat pasca-Perang Dunia I dan II menyempurnakan hegemoni itu. Barat tidak hanya menguasai moneter, persenjataan, dan politik internasional, tetapi juga mengekspor sistem nilai dan pemerintahan—demokrasi liberal—sebagai standar global.

Namun, memasuki abad ke-21, retakan-retakan itu mulai nyata. Sistem ekonomi kapitalis berbasis riba menunjukkan kelemahan strukturalnya, dengan krisis yang berulang dan ketimpangan yang menganga.

Dominasi militer Barat kini banyak menemui pesaing tangguh seperti Rusia dan China. Demokrasi liberal yang diekspor seringkali justru menghasilkan disfungsi politik, konflik internal berkepanjangan, dan polarisasi yang merusak kohesi sosial, baik di Eropa maupun Amerika Serikat sendiri.

Kemacetan dalam menawarkan solusi ini memicu respons yang menarik. Kemunculan figur seperti Donald Trump dapat dilihat sebagai upaya terakhir untuk mempertahankan dominasi Barat, tetapi dengan formula yang berbeda: Amerika Serikat dan Israel (Zionis) sebagai sentral pengendali.

Kedekatan Trump dengan kelompok Zionis tertentu sangat terbuka, dari menantu dan cucunya yang dibanggakan sebagai Yahudi Zionis, hingga pembelaannya yang tak kenal lelah terhadap Netanyahu. Namun, gaya Trump yang cenderung unilateral dan transaksional justru memicu kegamangan, bahkan di kalangan sekutu tradisional Barat sendiri.

Yang lebih menarik, upaya pertahanan hegemoni ini malah memantik friksi di internal kekuatan pendukung lama. Pembunuhan Charlie Kirk, pengikut setia Trump yang juga Zionis, oleh elemen Zionis lainnya, bisa dibaca sebagai pertanda konflik terselubung antar-kelompok kepentingan yang sama.

Di tingkat global, tawaran Trump untuk membentuk “Dewan Perdamaian Gaza” yang diinisiasinya disambut hati-hati oleh beberapa negara seperti Rusia dan Indonesia, sementara Eropa justru menolaknya—sebuah bukti nyata pecahnya konsensus Barat. Padahal, negara-negara itu sebelumnya sama-sama mengkritik kebijakan Trump terhadap Venezuela. Ini menunjukkan bahwa dunia sedang mencari pola baru, sementara Blok Barat sendiri tidak lagi kompak.

Apa yang diperjuangkan Trump dan sebagian elit Eropa pada hakikatnya adalah upaya mempertahankan sistem lama yang menindas. Namun, kesadaran akan hal ini telah menyebar, meski banyak yang masih merasa tidak berdaya. Dalam perspektif eskatologi Islam, fenomena ini dapat diteropong melalui firman Allah dalam Surah Al-Maidah ayat 64: bahwa kelompok yang pelit, mencengkeram dunia dengan peperangan dan kekerasan, akan dipadamkan oleh Allah.

Kebencian di antara mereka sendiri akan Allah tumbuhkan, sebagai bagian dari mekanisme ilahi untuk meredam kejahatan dan kerusakan mereka di muka bumi. Fase perpecahan dan kemunduran Blok Barat ini bisa jadi adalah pertanda bahwa matahari dominasi mereka memang sedang terbenam, membuka ruang bagi kebangkitan kekuatan baru pembela keadilan yang dijanjikan.

Wallahu A’lam bish-shawab.

Sya’ban 1447

Januari 2026